Kamis, 19 Juni 2008

Benarkah ini sebuah kenyataan....

Hidup bagaikan mimpi, kata kawan saya. Baru kemarin rasanya masa kecil berlalu, lantas tumbuh menjadi dewasa. Kini sudah tua, dan sebentar lagi meninggalkan dunia yang fana. Tak tahu kemana. Setiap hari kita merasakan hal-hal yang kurang lebih sama. Pagi tadi kita terbangun dari tidur semalaman, kini kita beraktivitas penuh kesadaran, nanti malam kita lelap kembali dalam tidur yang entah bakal terbangun kembali ataukah lenyap selamanya. Begitu pula kecamuk pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Baru saja kita merasakan senang dan bahagia, tak lama kemudian kita alami duka dan derita. Sebelumnya kita memperoleh rasa tentram dan damai tapi tak lama kemudian dihinggapi rasa cemas berkepanjangan. Hidup kadang terasa aneh, bagaikan mimpi saja layaknya. Sehingga, tak jarang kita berpikir: ini kenyataan ataukah semu belaka ? Hidup dan mimpi memang mirip. Mimpi adalah 'aktivitas otak' di dalam 'TIDUR' Sedangkan hidup adalah 'aktivitas otak' di dalam KEMATIAN' Mimpi adalah KEMBANG TIDUR, sedangkan hidup adalah KEMBANG KEMATIAN. Mungkin Anda tidak sependapat dengan ungkapan ini, tapi cobalah cermati kemiripan keduanya. Apakah sebenarnya mimpi? Manakah yang lebih substansial antara mimpi dan tidur? Tentu kita sependapat bahwa yang lebih substansial di antara keduanya adalah 'tidur'. Dikarenakan tidur, maka seseorang bisa bermimpi. Dengan kata lain, mimpi hanya bisa terjadi di dalam tidur. Bagaimana mimpi bisa terjadi? Sampai sekarang, para pakar masih belum menemukan jawaban yang memuaskan. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah terulangnya memori di dalam otak. Artinya, sekadar melintasnya ingatan saja. Tidak memberikan makna. Tapi, ada yang berpendapat bahwa mimpi adalah 'aktivitas jiwa' alias pengalaman jiwa di dunianya sana. Sehingga, itu sebenarnya adalah kejadian sesungguhnya. Cuma, di dunia yang berbeda. Ada pula yang mengatakan, bahwa mimpi sekadar perlambang dari 'dunia lain' yang terkait dengan kehidupan di dunia nyata. Semuanya masih serba belum memuaskan, dan terus mengalami perkembangan penelitiannya. Namun yang jelas, kita bisa merasakan bahwa sebuah mimpi terasa 'benar-benar terjadi' di dalam tidur kita. Sehingga jika kita sedang mimpi buruk, nafas kita bisa terengah-engah karenanya. Atau berkeringat dingin. Atau ada yang sampai ngompol segala. Artinya, aktivitas mimpi itu memiliki pengaruh yang riil dalam diri kita. Aktivitas kelistrikan otak yang terjadi, dan koordinasi organ-organ terkait, sama persis dengan ketika kita sedang mengalami kejadian sesungguhnya di luar mimpi. Jadi, dari sudut pandang kerja otak, mimpi tidak ada bedanya dengan pengalaman riil dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi, ia muncul dalam kondisi otak sedang tidur. Karena itu muncul istilah 'Mimpi' adalah 'Kembang Tidur' Sebuah 'kehidupan' yang muncul di dalam 'kematian'! Ini mirip dengan yang terjadi dalam pengalaman kehidupan kita. Kalau skala pembahasan kita diperluas, maka kehidupan ini bagaikan sebuah mimpi, sedangkan 'tidurnya' adalah 'kematian' kita. Kematian bukan hanya berarti lepasnya jiwa sesudah habis usia kita. Sebenarnya, sebelum kita lahir kita juga berada di dalam alam kematian.'Alam kematian' adalah alam dimana jiwa, ruh dan badan kita belum bersatu. Dan, alam dimana jiwa, ruh dan badan kita sudah terpisah.

WONG JOWO KUDU NGERTI JAWANE

PiwulangManunggaling Kawula Gusti” (Ajaran Bersatunya Manusia dengan Tuhan) adalah ajaran Jawa tentang tanggapan diri pribadi manusia (ciptaan) atas belas kasih atau welas asih Tuhan (Pencipta) yang berkenan menyertai setiap hati sejati manusia (Manunggaling Gusti Kawula).

Diyakini bahwa karena belas kasih-Nya maka sejak manusia diciptakan, Tuhan selalu menyertai manusia sebagai ciptaan paling sempurna yang diutus menjadi “kepanjangan tangan Tuhan” supaya hidup rukun dengan sesama dan alam semesta sebagaimana diteladankan Tuhan, untuk memuliakan nama-Nya. Karena kasih-Nya (katresnan Dalem Gusti), Tuhan tidak otoriter tetapi menghargai manusia sebagai pribadi utuh yang diberi kebebasan. Kebebasan inilah yang membuat perjalanan hidup manusia menjadi berbeda satu dengan yang lain.

Upaya diri pribadi manusia yang terbuka hatinya menanggapi “Manunggaling Gusti Kawula” ini dilakukan secara sendiri-sendiri atau berkelompok dengan laku glenikan sehingga menghasilkan ngelmu klenik yang disebut ajaran (piwulang atau kawruh)Manunggaling Kawula Gusti”, sebagai berikut :

  • Sesungguhnya pengetahuan manusia tentang “dirinya sendiri” masih sangat dangkal daripada “diri sendiri sejati” yang diberikan Sang Pencipta. Atau dengan kata lain Sang Pencipta mengenal diri manusia lebih baik daripada manusia mengenal dirinya sendiri, Tuhan welas asih kepada manusia lebih daripada manusia mengasihi dirinya sendiri.
  • Bahwa perbuatan yang selama ini dilakukan kepada Tuhan, sesama dan alam semesta yang menurut manusia sudah baik ternyata masih sebatas ragawi yang kasad mata penuh pamrih dan pilih kasih (mbancindhe mbansiladan) hanya untuk kepentingan manusia (dirinya sendiri). Contoh : Ketika seseorang beribadah kepada Tuhan menganggap yang dilakukan sudah cukup (karena sikap dan perbuatannya tidak berubah), tetap melakukan kekerasan phisik / non phisik, pemarah, dlsb karena dilakukan secara normatif, agamis tanpa hati sejati. Demikian pula ketika perbuatan baik kepada sesama tidak mendapatkan balasan, tanggapan semestinya atau bahkan sama sekali tidak ditanggapi menjadi kecewa, marah, tersinggung, dlsb. Padahal kasih yang diteladankan Tuhan tidak pernah menuntut balas dan pilih kasih : oksigen untuk bernapas manusia, hangatnya matahari, segarnya air hujan diberikan kepada setiap orang secara cuma-cuma tanpa membedakan status, etnis/ warna kulit, agama, dlsb.
  • Untuk menggali kesadaran diri hati sejati diperlukan percaya sejati kepada Tuhan. Percaya sejati berarti berserah diri tanpa reserve, melepaskan nafsu ingin memiliki dan kemauan sendiri kepada kehendak Tuhan, semua yang ada dipersembahkan sebagai alat-Nya memuliakan nama-Nya.
  • Niat berserah diri atau pasrah kepada Tuhan hanya dapat diwujudkan dengan laku batin meneng atau diam terpusat di hati : tersenyum, rileks melepaskan semua ketegangan tubuh dan pikiran. Laku meneng mengarahkan hati kepada Tuhan dilakukan secara tekun tanpa target, tanpa pamrih dan tidak memaksakan diri, batin menjadi wening (jernih). Rasa ati wening ini menumbuhkan kesadaran hati sejati bahwa Tuhan sungguh hadir mengasihi dirinya. Buahnya hati sejati menjadi dunung (mengerti) bahwa hidupnya harus menyatu dengan Sang Pencipta. (makna kebatinan).
  • Kesadaran Manunggaling Kawula Gusti berarti harus mau meneladani kasih-Nya yang diungkapkan dalam hidup sehari-hari semakin berbelas kasih sejati kepada sesama dan alam semesta ; memaafkan kesalahan, menyesal dan mohon maaf kepada Tuhan dan sesama atas segala kesalahan (yang sering membuat tertekan hatinya), menerima orang lain dan keadaan / peristiwa seperti apa adanya, tidak akan mempengaruhi orang lain dengan paksa, merubah sikap kekerasan menjadi tanpa kekerasan, dari permusuhan menjadi damai, dari hidup dengan berbagai kepalsuan menjadi jujur dan apa adanya, dari sombong, egois dan menonjolkan diri menjadi rendah hati dan peka akan perasaan orang lain, dari serakah menjadi ikhlas untuk berbagi, berbela rasa, melestarikan alam semesta, tidak pernah mengadili orang lain, mengritik, memaksakan kehendak, dlsb. Relasi spiritual Kawula Gusti ini harus bermuara pada sikap hormat atau ngajeni sesamining gesang. Sikap ini membuahkan relasi welas asih sejati dalam persaudaraan.
  • Laku batin mutlak harus dilakukan, karena tanpa laku batin terpusat di hati (bukan konsentrasi pikiran yang menegangkan) maka orang hanya mengerti sebatas wacana tetapi tidak menghayati. Tuhan hanya dapat diabdi dengan cinta dalam perbuatan nyata, tidak hanya dipikirkan. Hanya dengan perbuatan belas kasih sejati Tuhan dapat diperoleh, tetapi dengan pikiran tidak mungkin. Sebagai pengandaian, untuk memperoleh prestasi olah raga diperlukan ketekunan latihan, demikian pula untuk dapat menanggapi kasih-Nya diperlukan ketekunan olah batin yang diawali dengan senyum, sikap rileks menghilangkan ketegangan tubuh dan pikiran tanpa memaksakan diri, untuk dapat menyadari kehadiran-Nya.
  • Sikap percaya dan berserah diri manunggal dengan Tuhan ini bisa diandaikan sebagai hak dan kewajiban, ketika orang telah memenuhi kewajibannya dengan baik pasti haknya akan diperoleh. Apabila orang sungguh percaya kepada Tuhan, mengarahkan hati sejati kepada-Nya yang diungkapkan dengan perbuatan baik penuh welas asih, maka orang akan dengan tegar dapat menerima setiap keadaan tanpa harus melawan dengan memaksakan kehendak, segala sesuatu yang negatif dari luar dirinya diterima dengan senyum sebagai hiburan, karena percaya bahwa kuasa welas asih & katresnan Dalem Gusti yang berkarya, diiringi ucapan syukur. Tidak ada rasa irihati, sombong, takut, kuatir, tegang, dihantui rasa bersalah, melainkan percaya Tuhan pasti akan mengatur memberikan kesejahteraan sejati bagi hidupnya. Demikian juga ketika berdoa memohon kepada-Nya, yakin segala permohonannya telah dikabulkan. Semua ini membuahkan rasa hati gembira, berani menghadapi kenyataan hidup, dalam segala hal selalu bersyukur (sumringah bingah, menapa-menapa wantun, syukur lan beja ingkang langgeng).
  • Seseorang yang sudah mampu menjalani hidup menyatu dengan Tuhan atau Manunggaling Kawula Gusti” berarti sudah menanggapi “Manunggaling Gusti Kawula” dengan baik. Buahnya orang menjadi sehat secara psikis karena selalu berpikir positip dan tenang atau sareh. Secara emosi menjadi lebih sabar, tidak pemarah, tidak akan putus asa, kecewa dan tidak mudah tersinggung karena yakin semua yang negatif dari luar tidak akan mempengaruhi dirinya (nyawang karep). Secara sosial menjadi mudah bergaul dan menerima orang lain dan keadaan seperti apa adanya tanpa menimbulkan emosi negatip. Akhirnya, dengan didukung pola makan yang benar dan gerak badan cukup, semua sikap tersebut menyehatkan raga karena metabolisme tubuh normal tanpa diganggu emosi negatip yang mengakibatkan peredaran darah tidak lancar, detak jantung tidak teratur, tekanan darah naik.
  • Meskipun ajaran ini tentang relasi pribadi manusia dengan Tuhan, tetapi memiliki nilai sosial dan kemanusiaan tinggi, karena sikap berserah diri kepada Tuhan selalu diungkapkan dengan perbuatan belas kasih kepada sesama dan alam semesta, dengan hati sejati sebagai nakhodanya. Ajaran ini juga upaya mengakhiri kekerasan, karena sesungguhnya kekerasan yang dilawan dengan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru.

Ajaran “Manunggaling Kawula Gusti” ini sangat pas untuk bekal hidup jaman ini dimana orang hanya dibiasakan menggunakan otak kiri / kognisi yang menarik manusia kepada hitung-hitungan tambah dan kurang, konsumerisme, hedonisme, normatif yang hanya ragawi dan kasad mata tanpa hati sejati. Akibatnya orang ingin cepat memperoleh hasil secara instant mengabaikan proses, untung rugi, yang disadari atau tidak mempengaruhi hidup spiritual keagamaan, persaingan, kalah menang, pembenaran diri, egoisme yang berbuntut konflik dengan kedok agama, suku dan ras, penguasaan sumberdaya alam tanpa ada kemauan melestarikan dan berbagi, kekerasan dlsb yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan sejati yang adil dan beradab… Sembah nuwun, Rahayu, Rahayu, Rahayu

Rabu, 18 Juni 2008

Selasa, 17 Juni 2008

sekilas tentang motivasi hidup

Dalam hidup ini setiap orang pastilah memiliki tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Mereka yang sekolah mmemiliki target agar dapat nilai baik dan lulus dengan baik pula, mereka yang berusaha juga memiliki target agar usahanya lancar dan menghasilkan keuntungan, mereka yang bekerja berharap dapat menempati posisi strategis dan mendapatkan gaji yang memadai, dan mereka yang terjun di dunia politik memiliki keinginan menduduki jabatan-jabatan tertentu yang berimbas naiknya pamor mereka di mata masyarakat.

Semuanya itu merupakan hal yang biasa kita jumpai. Namun terkadang kita melihat ada orang-orang yang bisa berhasil dalam tempo yang tidak terlalu lama, ada pula mereka yang justru belum bisa mengubah nasib mereka. Banyak variabel memang yang bisa menentukan hal semua itu. di antara variabel itu adalah berkitan dengan motivasi individu.

keluargaku yang selalu buat aku rindu...

lingkungan sekolahaku

penataran bahan ajar berbasis ICT